Beberapa kerajaan mulai terbentuk dan memerintah tanah Batak sejak tahun 1000 SM di Sianjur Mula-mula tepatnya di kaki bukit Pusuk Buhit. Kumpulan kerajaan-kerajaan huta ini berkumpul dalam persemakmuran kerajaan Batak. Mereka ini merupakan turunan dari kubu Tatea Bulan.

Menurut Uli Kozok, dalam Aschim Sibeth, The Batak, di tanah Batak telah bermukim kelompok manusia pemburu, nomadic hunters, di zaman Palaeolithic. Namun ledakan gunung toba sekitar 75.000 tahun yang lalu telah mengganggu habitat mereka. Ledakan tersebut mengeluarkan lava dan magma sampai ke Sri Langka dan Selat Bengal.

Peralatan-peralatan batu yang ditemukan dibawah lapisan-lapisan lava tersebut, setelah digali, merupakan bukti adanya kehadiran manusia sebelum ledakan tersebut. Namun diyakini hanya sedikit diantara mereka yang dapat menyelamatkan diri.

 30.000 tahun yang lalu, penduduk pulau ini digoncang dengan ledakan yang kedua. Ledakan tersebut mengakibatkan terbentuknya pulau Samosir di bekas danau ledakan pertama yang disebut Tao Toba.

Di pantai timur Sumatera, Heaps of Seashells yang besar berdiameter 30 m dan dan dalamnya 5 m telah ditemukan. Peralatan ini sama fungsinya dengan yang ditemukan di Vietnam dan Malaysia. Ini adalah bukti untuk mengetahui kebiasaan makan populasi zaman batu saat itu; pemburu, pengumpul dan para nelayan yang disebut budaya Hoabinh.

MANDERA HARAJAON BATAK (BENDERA KERAJAAN BATAK)
Filed Under: Article, Legenda Batak, News — lian lipan — Leave a comment
December 8, 2011

Bendera Kerajaan Batak terdiri dari dua warna, putih dan merah. Warna putih yakni pada: bendera bagian atas, dan warna merah meliputi 80% ukuran bendera, dimana pada bagian merah terletak symbol berwarna putih yakni lambang bulan di kanan dan lambang matahari di kiri, serta Piso Solam Debata di tengah.
Makna warna dan lambang:

  • Putih, “na puti so haliapan, na puti so hapupuran” artinya putih tidak bernoda, putih kesucian, kesalehan dan kealiman.
  • Merah sebagai symbol Banua Tonga, perlambang dunia, tanah, air, kerajaan, masyarakat Batak.
  • Gambar bulan dan matahari adalah lambang Keturunan Si Raja Batak.Bulan yakni keturunan Guru Tatea Bulan (tetayang bulan/bulan purnama/bulan na gok) dan Matahari (dengan delapan garis pancaran sinar ke delapan arah mata angin), yakni lambang keturunan Raja Isumbaon. Marga-marga Batak berasal dari garis Keturunan Guru Tatea Bulan (anak pertama si Raja Batak) dan Raja isumbaon, anak kedua.
  • Piso Solam Debata (Pisau Suci Dewata) atau Gaja Dompak (Bergagang Kepala Gajah), dan mata pisau berbentuk saing gaja (gading gajah) sebagai symbol kewibawaan, kekuatan dan keperkasaan dalam keadilan dan kebenaran.

Prasejarah :

Beberapa kerajaan mulai terbentuk dan memerintah tanah Batak sejak tahun 1000 SM di Sianjur Mula-mula tepatnya di kaki bukit Pusuk Buhit. Kumpulan kerajaan-kerajaan huta ini berkumpul dalam persemakmuran kerajaan Batak. Mereka ini merupakan turunan dari kubu Tatea Bulan.

Menurut Uli Kozok, dalam Aschim Sibeth, The Batak, di tanah Batak telah bermukim kelompok manusia pemburu, nomadic hunters, di zaman Palaeolithic. Namun ledakan gunung toba sekitar 75.000 tahun yang lalu telah mengganggu habitat mereka. Ledakan tersebut mengeluarkan lava dan magma sampai ke Sri Langka dan Selat Bengal.

Peralatan-peralatan batu yang ditemukan dibawah lapisan-lapisan lava tersebut, setelah digali, merupakan bukti adanya kehadiran manusia sebelum ledakan tersebut. Namun diyakini hanya sedikit diantara mereka yang dapat menyelamatkan diri.

30.000 tahun yang lalu, penduduk pulau ini digoncang dengan ledakan yang kedua. Ledakan tersebut mengakibatkan terbentuknya pulau Samosir di bekas danau ledakan pertama yang disebut Tao Toba.

Di pantai timur Sumatera, Heaps of Seashells yang besar berdiameter 30 m dan dan dalamnya 5 m telah ditemukan. Peralatan ini sama fungsinya dengan yang ditemukan di Vietnam dan Malaysia. Ini adalah bukti untuk mengetahui kebiasaan makan populasi zaman batu saat itu; pemburu, pengumpul dan para nelayan yang disebut budaya Hoabinh.

Juga diketahui bahwa orang-orang zaman batu tersebut hanya memiliki sedikit persamaan tubuh dengan penghuni Indonesia yang sekarang. Mereka masuk dalam katagori Ras Australoid yang menjadi penghuni pertama Indonesia, Melanesia sampai Australia. Berkulit gelap namun tidak terlalu hitam, rambut keriting, bibir tebal dan pendek. Mereka inilah yang menjadi populasi asli tanah Toba. Si Raja Batak yang menjadi leluhur Bangsa Batak diyakini merupakan imigran dari daerah Burma atau Siam.

Berbeda dengan sebagain besar populasi Indonesia yang merupakan berasal dari Ras Mongoloid keturunan Cina Selatan yang bermigrasi. Diyakini pengaruh mongolid juga mencapai daerah Batak di awal-awal Masehi.

Beberapa suku di Sumatera seperti Aceh dan melayu belum sampai ke Indonesia sebelum abad ke-2 Masehi. Sedangkan nenek moyang Batak nampaknya telah tinggal di pegunungan Sumaetra Utara sejak lama, makanya mereka lebih berparas Australoid. Demikian Uli Kozok.

Beberapa keturunan Si Raja Batak mendirikan kerajaan-kerajaan huta, salah satunya Kerajaan Hatorusan. Kerajaan Hatorusan, didirikan oleh Raja Uti putra Tatea Bulan, mulai membangun tatanan hidup masyarakat dengan sistem negara teokrasi. Raja Uti alias Raja Biak-biak merupakan seorang intelektual.

Guru Tatea Bulan atau disebut juga Toga Datu pernah pergi menemui pamannya (Saudara dari Ibunya) di Siam. Dia bermaksud meminang paribannya, putri sang Paman/Tulang. Tapi rencananya tidak berhasil, tidak disebutkan alasannya. Ketika dia kembali ke kampung halaman, Sianjur Mulamula, dia terkejut dan sangat sedih menemukan kampung halaman yang ditinggalkannya telah kosong. Ayahnya, Si Raja Batak telah meninggal dunia.

Sementara itu, adiknya, Raja Isumbaon telah pindah ke Dolok Pusuk Buhit dekat dengan Pangururan sekarang ini. Adik bungsunya Toga Laut mengembara dan membuka wilayah yang sekarang masuk ke Aceh dan bernama Gayo/Alas.

 Dia berinisiatif untuk menemui adiknya; Raja Isumbaon. Di sana dia menetap sementara dan kemudian kembali ke Sianjur Mula-mula, tempat lahirnya. Dia berusaha bangkit dari kepedihan hidupnya tersebut dengan menghabiskan waktunya dengan berkontemplasi dan bekerja; bercocok tanam di sawah. Pada saat-saat itulah dia bertemu dengan seorang wanita pendatang, yang kesasar, dan mengaku bernama Boru Sibasoburning Guru. Sibasoburning mempunyai bahasa yang berbeda dengan bahasa Batak.

Hati tertarik, mungkin sudah jodoh, keduanya menikah. Hasilnya adalah anak pertama raja Miok-miok yang disebut sebagai Raja Gumelleng-gelleng, disebut juga raja Miok-miok atau Biak-biak dengan gelar Raja Uti.

Lahir dengan kondisi cacat, dengan tangan dan kaki yang lebih pendek dari ukuran normal bukan menjadi halangan untuk melakoni hidupnya sebagai mana layaknya. Teknologi metalurgi diduga sudah berkembang dan lazim digunakan di masanya. Raja Uti mempunyai daya pikir dan kreatifitas yang luar biasa dibandingkan anak normal. Beberapa alat diciptakannya untuk mengatasi keterbatasan cacat tubuhnya. Dia berhasil merangkai kain dengan kayu ringan seperti layang-layang besar yang membuatnya dapat bergelantungan saat layang-layang tersebut terbang. Legenda sekarang ini mengatakan bahwa Raja Uti mempunyai sayap dan dapat terbang karena kesaktiannya.
Masyarakat Toga Tatea Bulan saat itu merupakan masyarakat yang berbudaya. Hal ini diyakini karena Guru Tatea Bulan yang juga seorang raja dengan gelar Raja Ilontungan merupakan seorang filosofis. Pemikiran dan ajaran-ajaran Guru termaktub dalam Kitab Pustaha Agong.

Kitab ini membahas cakupan antara lain; Ilmu Hadatuan (Medical dan Metaphysical Science), Parmonsahon (Art of Self Defence & Strategy-cum-Tactical Science) dan Pangaliluon (Science of Deceit).

Perkembangan ilmu pengetahuan saat itu telah membuat kerajaan sangat disegani oleh rakyatnya. Sementara itu Kubu Toga Sumba dengan Rajanya Isumbaon juga ikut serta berusaha membangun peradaban.
Bila kubu Tatae Bulan lebih fokus pada hal-hal spiritual dan sosial. Maka kebijakan dan ajaran Raja Isumbaon termaktub dalam Kitab Pustaha Tumbaga Holing mencakup; Harajaon (Political Science or the science about the kingdom), Parumaon (Legislation), Partiga-tigaon (Econimics Science or The Arts of Trading) dan Paningaon (Life Skills or Technology).

Populasi kerajaan Hatorusan saat itu membentang dari timur Sumatera sampai barat Sumatera dengan kota pelabuhannya; Barus dan Singkil di utara mencakup Gayo dan Rao di bagian selatan.

About these ads

4 responses »

  1. Herbert says:

    Saya sangat tertarik dngan informasi bglo anda …

    Bagaimana untuk mengetahui secara detail budaya Batak ini … saya tertarik sekali untuk mengetahuinya.

    Herber Tambunan

  2. Vins Tio says:

    Sesuatu yang sangat menarik untuk diketahui …. Sejarah Halak Hita Batak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s