Setelah beberapa tahun lamanya Sariburaja dan Siboru Pareme bersama dalam pembuangan di daerah hutan Sabulan maka lahirlah anaknya dan diberi nama “ Siraja Altong “, di tempat mereka tinggal ada juga salah satu binatang yang bernama “ Gompul “ untuk menemani mereka dan Gompul inilah yang selalu membawa makanan seperti situak ni altong ( madu ) yang diberikannya kepada Siboru Pareme, di kemudian hari si Raja Altong sering juga dinamai dengan Siraja Lontung hingga saat ini.

Pada suatu hari Sariburaja merenung dan memikirkan hubungannnya dengan Siboru Pareme yang tidak mungkin akan terus hidup bersama karena mereka masih bersaudara ( kakak beradik/marito ) sehingga Sariburaja memutuskan untuk pergi meninggalkan Siboru Pareme bersama anaknya dan binatang yang selalu mengantar makanan kepada Siboru Pareme.

Niat sudah bulat untuk pergi tampa tujuan sehingga Sariburaja berpamitan kepada Siboru Pareme dengan memberikan sebuah cincin untuk dapat diberikan kepada anak mereka sebagai pertanda apabila sudah besar nantinya. Sedangkan untuk menemani Siboru Pareme dan anaknya di hutan Sabulan di percayakan kepada binatang piaraannya yaitu “ Gompul “.

Berangkatlah Sariburaja meninggalkan Siboru Pareme dan anaknya bernama Siraja Lontung pergi jauh tampa tujuan, ternyata dalam perjalanannya tampa disadari ia bertemu dangan “ Homang “ ( bagi masyarakat suku batak homang sangat di takuti ) dan berkata kepadanya “ ise do ho na humaras – haras i, satung hulatang, so tung hulutung, hualithon tu andor tahu, sotung hupangan, so tung hututung, hupiringkon tu dongan sajabu “ ( siapa itu yang menggoyang – goyang daun, nanti saya potong – potong kau, dan saya bakar biar kami makan bersama ) “ ujarnya. Dan Sariburaja pun menjawabnya “ iale inang ompu – ompu ni hunik do ahu natinuhor sian onan, ompu ni hinalungun na soada tudosan, tagamonma langge, unang singkoru, rahanonma mate unang mangolu “ ( saya ini adalah orang yang tidak berguna yang dapat di perjualbelikan, dari pada hidup susah lebih baiklah saya mati ) ,ujarnya.

Ternyata pembicaraan Sariburaja dengan Homang itu didengar oleh salah seorang perempuan penghuni hutan yang bernama “ Nai Mangiring Laut “yang sedang duduk – duduk di pondok ( rumah ) dekat mereka, sehingga Nai Mangiring Laut meminta kepada Homang itu agar memberikan Sariburaja kepadanya, biar ada teman hidupnya. Sehingga Homang itu berkata kepada Sariburaja, “ Timbungma tanggurungkon, ia lohot ho disi pangoluonku ma ho, alai molo madabu panganonku do,” ( lompatlah ke pundakku ini, kalau kau dapat lengket kau akan ku biarkan hidup tapi kalau kau jatuh kau akan ku makan )” ujarnya. Maka melompatlah Sariburaja ke punddak Homang itu dan ternyata ia dapat lengket di pundaknya dan diantarkannyalah Sariburaja kerumah Nai Mangiring Laut dan mereka tinggal bersama – sama.

Tidak beberapa lama kemudian lahirlah anak Sariburaja dari Nai Mangiring Laut yang bernama “ Siraja Borbor “,

Kebiasaan Sariburaja yang suka bepergian tampa tujuan di sampaikannya kepada istrinya Nai Mangiring laut dengan maksud agar ia dapat di perbolehkan untuk pergi, dan istrinya pun merelakan kepergian Sariburaja. Sebelum berangkat Sariburaja memberikan sebuah cincin sebagai pertanda untuk diberikan kepada anaknya Siraja Borbor dengan maksud apabila sudah besar nanti dapat mengenalinya.

Dalam perjalanannya bertemulah Sariburaja dengan  beberapa orang para pemain judi yang bernama Langka Somalidang dan Raja Asi – Asi, dan mereka saling mengajak untuk bermain judi, mereka bertigapun bermain judi dengan berbagai macam taruhan, sehingga Sariburaja kalah tampa menyisahkan barang – barangnya, sehingga ia pergi meninggalkan teman – temannya pergi jauh ke hutan belantara.

Setelah Siraja Lontung sudah dewsa, iapun pergi mencari siapa gerangan ayahandanya, dan bertanya kepada ibunya “ ale inang, nungnga pola tang dagingku, laos so dung do huida damang, didia do ibana “katanya ( oh ibu, saya sudah dewasa, tapi sampai saat ini belum saya kenal ayahanda, dimanakah beliau ). Ibunya pun menjawab “  Ia le anak hasian, unang ho parigat – rigat bulung, mangarigati bulung ni gaol, unang ho mangringkari hinalungun, pasunggul – sunggul hinadangol, namapultak sian bulu do hita, madekdek sian langit, ia goar ni amangmu Sariburaja do, alai nungnga leleng laho marjalang, indion ma tintin partanda  nani lehonna tu au sipasahatonku tuho, asa molo luluanmu amang mi asa tintin on ma paboan – moan “ ujarnya ( Oh….anakku, ayahmu adalah bernama Sariburaja, tapi sudah lama pergi jauh entah kemana, kalau kau mau hendak mencari ayahmu, inilah cincin sebagai pertanda yang diberikan padaku untuk saya sampaikan padamu, bawalah cincin ini, apabila kau bertemu dengannya supaya mengenalimu ).

Berangkatlah Siraja Lontung menuju hutan sebelah timur menuju barat untuk mencari ayahandanya begitu juga dengan siraja Borbor permisi kepada ibunya dan berangkat untuk mencari ayahandanya menuju arah barat ke timur,  namun mereka berdua belum saling mengenal satu sama lain masing – masing dengan membawa cincin yang duterimanya dari ibunya.

Setelah beberapa hari kemudian bertemulah mereka berdua di suatu tempat di tengan hutan, mereka berdua saling memandang, dan Siraja Lontong yang duluan bertanya “ siapakah gerangan saudara, apakah engkau orang tua saya ?, yang bernama Sariburaja,” ujarnya. Namun Siraja Borbor tidak menjawabnya, akan tetapi ia langsung marah melihat Siraja Lontung dan mereka langsung marmossak ( berkelahi ), karena dikiranya Siraja Lontung mengolok – olok Siraja Borbor, karena Siraja Borbor juga mau mencari ayahandanya.

Sehingga mereka pun berkelahi ditengah – tengah hutan itu selama tiga hari tiga malam tidak ada yang mengetahui, yang pada akhirnya perkelahian itu berhanti dengan sendirinya karena mereka telah merasa capek.

Tiba – tiba menangislah Siraja Lontung, seperti ini “ Iale inang dilehonho tu ahu sada tintin ( cincin ) on, laho mangalului damang na marsinuan i, hape ima huroha hite – hite tu hamatean i,”ujarnya ( Oh……..ibu, kau berikan cincin ini sama saya sebagai jalan untuk mencari ayahanda, namun inilah jalannya menuju kematian ),

Mendengar tangisan Siraja Lontung, Siraja Borbor terkejut dan heran, karena mereka berdua ternyata sama – sama mau mencari ayahandanya, karena Siraja Borbor teringat akan cincin pemberian ibunya, Siraja Borbor akhirnya mendekati Siraja Lontung dan berkata “ tiniptip sanggar mambahen huru – huruan, jolo sinungkun marga asa binoto partuturon “ ujarnya ( dipotong – potong sanggar untuk dijadikan kurungan, di Tanya dulu nama ( marga ) biar saling mengenal ), karena saya juga mau mencari ayahanda yang bernama Sariburaja “ tambahnya.

Siraja Lontung akhirnya berdiri dan mendekati sambil menyalam Siraja Borbor dan berkata “  ayahanda juga bernama Sariburaja, dan itulah yang mau saya cari, berarti kita berdua adalah anak Sariburaja “ ujarnya, sehingga mereka berdua saling berpelukan dan menangisi nasip mereka dan pergi sama – sama

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s